Arti Minal ‘Aidin Wal Faidzin

Minal 'Aidin Wal Faidzin

Apa yang kita pahami dari kata minal ‘aidin wal faidzin? Pastilah kita pahami bahwa ungkapan itu adalah “mohon maaf lahir dan batin”. Pemahaman ini sangat umum terjadi di Indonesia. Ungkapan yang banyak diucapkan dalam bulan Ramadan adalah ”Selamat Idul Fitri”, kemudian dilanjutkan dengan minal ‘aidin wal faidzin dan kemudian seakan-akan dibahasa indonesiakan menjadi ”mohon maaf lahir batin”.

Kapankah kebiasaan tersebut dimulai di negeri ini? Wallahu ‘alam bishawab. Mungkin saja sudah puluhan, atau bahkan ratusan tahun ungkapan dan ucapan seperti itu menjadi tradisi turun temurun dalam kehidupan. Tanpa kita ketahui ungkapan ini telah menjadi samacam tradisi tanpa kritisi atau bahkan menjadi adat tanpa ada debat. Hal ini terjadi karena Bahasa Arab belum menjadi bahasa kedua di negeri ini. Paling tidak untuk pemeluk Islam.

Minal ‘aidin wal faidzin BUKAN mohon maaf lahir dan batin

Secara lengkap, kalimatnya adalah Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin yang artinya,

semoga الله menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung”.

Jadi, minal ‘aidin wal faizin sendiri berarti dari orang-orang yang kembali dan beruntung. Dengan demikian, frase itu minal aidin wal faizin tidak memiliki makna sama sekali dengan ungkapan permintaan maaf atau pun bermaaf-maafan.

Dalam Bahasa Arab, ungkapan permintaan maaf biasanya dinyatakan dengan pernyataan “afwan” yang artinya permintaan maaf yang tulus dan ikhlas. Kalau kurang puas dengan kata “afwan” yang dinilai kurang panjang, maka bolehlah ditambah dengan “afwan zahir wal bathin”. Dalam hal maaf ini, perlu kita sadari bahwa ternyata memberi maaf mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan meminta maaf itu sendiri.

Bagaimana dengan Taqabbalallahu minna waminkum

Kalau demikian, apa ungkapan yang telah menjadi tuntunan Rasulullah semasa hidup beliau? Nabi Muhammad SAW ternyata telah memberikan tuntunan agar ketika tiba di bulan Ramadhan kita mengucapkan “taqabbalallahu minna waminkum“ yang artinya,

semoga الله menerima amalan aku dan kamu“.

Kemudian menurut riwayat ucapan ini diberikan tambahkan oleh para sahabat dengan kata-kata “shiyamana wa shiyamakum“ yang artinya,

puasaku dan puasamu”.

Dengan demikian secara lengkap kalimat tersebut menjadi “taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum” yang artinya,

semoga الله menerima amalan saya dan kamu, amalan puasa saya dan kamu“.

Meski sudah ada tuntunan yang secara dari Nabi Muhammad SAW, belum serta merta tuntunan itu akan segera dipraktikkan oleh umat, karena kebiasaan lama masih demikian melekat. Sebagai bagian dari faset kebudayaan, maka adat kebiasaan yang telah melekat akan mengalami perubahan melalui proses internalisasi yang cukup lama, mulai dari pengenalan, pemahaman, pembiasaan, sampai dengan pengamalan. Dengan demikian, jika kebiasaan itu memang dinilai tidak rasional lagi dan yang paling penting adalah karena kurang atau bahkan tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW, maka tidak akan serta merta kebiasaan itu akan berganti. Mengapa? Karena membuat orang lain mengerti adalah pekerjaan yang paling sulit.

Namun, kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak lagi yang belum mengenal tuntunan Nabinya sendiri. Umat lebih suka menggunakan kebiasaan umum, yang sudah biasa digunakan, meski kebiasaan itu sama sekali tidak mempunyai landasan yang kuat untuk digunakan. Itulah kenyataannya. Itulah kondisi faktual pemahaman dan pengamalan agama Islam saat ini. Padahal tidak ada agama yang lebih tinggi selain Islam. Tetapi, karena pengalaman agamanya lebih karena kebiasaan belaka, tanpa pemahaman yang kuat, maka keimanan umat masih sangat jauh dari kuat. Kalaupun kuat, maka kekuatan keyakinan tersebut sebenarnya merupakan kekuatan sementara yang sifatnya emosional belaka, bukan keyakinan yang dilandasi oleh pemahaman yang mendalam, termasuk pemahaman kita tentang Bahasa Arab, yang memang belum menjadi bahasa kedua kita.

Mudah-mudahan amal kita selama bulan Ramadan bernilai ibadah yang diterima الله SWT, sehingga kita dapat mencapai prestasi sebagai umat yang bertaqwa. Aamiin.

Sumber: suparlan.com
Image Courtesy: arnophotoblog.wordpress.com

Akhi (أخي)

admin at KotakMuslim

A humble guy who is proud being a Muslim. Follow us on Twitter @kotakmuslim.

Baca Juga...