Menampakkan Kecantikan, Perlukah?

Cantik

WANITA ingin sekali menjadi cantik. Karena pada hakikatnya wanita identik dengan kecantikan. Bahkan Islam benar-benar mendorong kaum muslimah agar merawat kecantikan dan kelembutannya. Rasulullah SAW bersabda kepada Umar,

Maukah kuberitahukan sebaik-baik simpanan seseorang? Dia adalah wanita shalihah, yaitu jika suami memandangnya, dia menyenangkannya.”

Dari hadits Abdullah bin Salam, bahwa Rasulullah bersabda,

Sebaik-baik istri ialah istri yang menyenangkan kamu bila engkau memandang (nya), dan taat kepadamu bila engkau menyuruh (nya), serta menjaga dirinya dan harta bendamu di waktu engkau tidak berada bersamanya.

Dari dua hadits diatas, muslimah yang dimaksud adalah yang sudah menikah dan bersuami. Jadi, menampakkan kecantikan adalah PERLU bagi muslimah terhadap suaminya.

Lantas, perlukah menampakkan kecantikan untuk ukhti yang berlum bersuami?
Jawabannya TIDAK.

Pernahkah ukhti mendengar kata tabarruj
Al-Qurthubi menjelaskan makna at-tabarruj secara bahasa, beliau mengatakan,

وَالتَّبَرُّجُ: التَّكَشُّفُ وَالظُّهُورُ لِلْعُيُونِ، وَمِنْهُ: بُرُوجٌ مُشَيَّدَةٌ. وَبُرُوجُ السَّمَاءِ وَالْأَسْوَارِ، أَيْ لَا حَائِلَ دُونَهَا يَسْتُرُهَا

Tabarruj artinya menyingkap dan menampakkan diri sehingga terlihat pandangan mata. Contohnya kata: ’buruj musyayyadah’ (benteng tinggi yang kokoh), atau kata: ’buruj sama’ (bintang langit), artinya tidak penghalang apapun di bawahnya yang menutupinya.
(Tafsir al-Qurthubi, 12/309)

Sedangkan sifat-sifat tabarruj di jaman jahiliyyah ada beberapa pendapat:

  • Seorang wanita yang keluar dari rumah dan berjalan diantara lelaki. Pendapat seperti ini dipegang oleh Mujahid.
  • Wanita yang berjalan berlenggak-lenggok dan penuh gaya dan genit. Ini adalah pendapat Qatadah.
  • Wanita yang memakai wangian. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Abi Najih.
  • Wanita yang mengenakan pakaian yang terbuat dari batu permata, kemudian ia memakainya, dan berjalan di tengah jalan. Ini adalah pendapat al-Kalabiy.
  • Wanita yang mengenakan kerudung namun tidak menutupnya, hingga anting-anting dan kalungnya terlihat.

Adapun larangan tabarruj telah ditetapkan الله ta’ala dalam firman-Nya,

Perempuan-perempuan tua yang telah berhenti haid dan kehamilan yang tidak ingin menikah lagi, tidaklah dosa atas mereka menanggalkan pakaian mereka tanpa bermaksud menampakkan perhiasannya (tabarruj).”
[al-Nuur:60]

Mafhum muwafaqah ayat ini adalah, “jika wanita-wanita tua yang telah “menaphouse” saja dilarang melakukan tabarrauj, lebih-lebih lagi wanita-wanita yang belum tua dan masih punya keinginan nikah.”

Berdasarkan keterangan di atas maka segala upaya wanita menampakkan kecantikannya di depan lelaki lain yang bukan mahram, termasuk bentuk tabarruj yang dilarang dalam ayat di atas. Karena itu, memakai pakaian ketat, pakaian transparan, atau menutup sebagian aurat, namun aurat lainnya masih terbuka, atau obral make up ketika keluar rumah, semuanya termasuk bentuk tabarruj yang dilarang dalam syariat.

Termasukkah memasang foto wajah di jejaring sosial?

Izinkan saya bertanya kepada Ukhti yang memajang fotonya di internet, foto itu dipajang untuk siapa ?

الله subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan muslim dan muslimah untuk menjaga pandangannya dari lawan jenis yang bukan mahram. Tak sampai di situ الله pun memerintahkan masing-masing kepada mereka untuk saling menjaga diri.
Ketika mengupload foto ukhti di internet maka anda secara tak langsung telah “menandatangani kontrak” bahwa kalian MEMBEBASKAN siapapun untuk memandang kalian tanpa terkecuali. Terus dimana penjagaan ukhti terhadap kehormatan ukhti dari orang lain?

Jika masih kalian biarkan, maka:

  • Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu (jika sengaja pamer kecantikan/keindahan tubuh dan tampil menggoda) semakin bertumpuk pulalah dosa-dosa ukhti.
  • Semakin sang lelaki menghayalkanmu, semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk lagi dosa-dosa ukhti.

Janganlah ukhti menyangka kecantikan yang ukhti tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggungjawabannya. Bisa jadi itu akan menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari. Apalagi jika sampai keelokan tubuhmu. Bayangkanlah! betapa bertumpuk dosa-dosa mereka yang auratnya diumbar di hadapan ribuan orang, bahkan jutaan para lelaki? Jika ukhti menjaga kecantikan dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu, maka anda kelak akan semakin cantik di surga الله. Lebih cantik dari bidadari di surga. Akan tetapi jika ukhti mengumbar kecantikan, maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat. Dan di akhirat kelak? Bayangkanlah

Percayalah, kecantikan kalian bukan untuk diumbar, sehingga dinikmati banyak mata lelaki, namun kecantikan menjadi hak suami, sang imam bagi istrinya.
Image Courtesy: cerulean-canvas.deviantart.com

Akhi (أخي)

admin at KotakMuslim

A humble guy who is proud being a Muslim. Follow us on Twitter @kotakmuslim.

Baca Juga...